Webinar Agribisnis dalam Penerapan Strategi Pemasaram Memasuki Era New Normal

Berita

Uniga – Fakultas Pertanian UNIGA menggelar Webinar series, kali ini mengusung tema mengenai Penguatan Kelembagaan di Era New Normal. Webinar tersebut dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 2020, dengan antusiasme peserta yang sangat baik yaitu sebanyak 584, peserta webinar tersebut terdiri dari berbagai kalangan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta tersebut merupakan dosen, mahasiswa, penyuluh, masyarakat umum dan ASN  yang mempunyai peran dalam bidang pertanian khususnya agribisnis. Narasumber Webinar tersebut yaitu Feriyanto yang merupakan Dosen Deparetemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB dan Agus Ali Nurdin yang merupakan seorang Duta Petani Milenial Kemeterian Republik Indonesia dan pemilik dari Okiagaru Grup. Webinar ini.

Webinar ini memberikan gambaran, bahwasannya pandemic Covid 19 tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, namun juga mempunyai dampak pada sektor pertanian, namun meskipun terkena dampak, hingga saat ini sektor pertanian merupakan sektor yang mampu bertahan di masa-masa krisis. Jika dilihat dari berbagai pelaku pertanian, petani yang paling rentan dalam menghadapi perubahan akibat pandemic Covid 19 ini adalah kelompok  petani pangan khususnya padi, hal tersebut terjadi karena petani padi umumnya mempunyai luas lahan yang sempit, tingkat pendidikan yang minim, hanya menggunakan teknologi yang sederhana pada pengusahaan pertaniannya dan usia petani umumnya sudah tidak muda lagi. Mengingat adanya petani-petani yang rentan tersebut, adanya penguatan di dalam kelembagaan pertanian sangatlah penting, tetapi kenyataannya hingga saat ini, kelembagaan pertanian dilihat dari segi kuantitas meningkat tetapi secara pemberian layanan masih kurang optimal. Hal tersebut terjadi karena sebanyak 51% lembaga pertanian masih berada pada kualifikasi sebagai lembaga pemula.

Tidak hanya itu dalam webinar ini juga membahas begitu pentingnya peran kelembagaan untuk menghadapi distribusi pangan ditengah keadaan bencana. Sebagai contoh meskipun saat ini produksi padi dalam kondisi aman dan terjamin dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi saat terjadinya penerapan PSBB sistem distribusi banyak terganggu dan tidak merata. Terganggunya sistem distribusi pangan tersebut ditandai dengan adanya penumpukan hasil produksi pertanian di sentra-sentra produksi sehingga menjadikan harga pangan turun di tingkat petani, sedangkan di sentra konsumsi, konsumen menerima harga cukup tinggi karena terbatasnya pasokan. Hal tersebut bisa diupayakan melalui pendekatan kelembagaan. Kelembagaan pertanian yang kuat akan mampu menjawab berbagai situasi, termasuk mitigasi pangan saat bencana.

Terwujudnya lembaga pertanian yang kuat, tidak lepas dari dukungan beberapa lembaga lainnya, seperti lemabaga riset dan pengembangan, informasi, pendidikan, pelatihan dan lembaga kebijakan daerah maupun nasional. Tantangan hari ini untuk mewujudkan kelembagaan yang kuat adalah  bagaimana membimbing petani agar mampu memproduksi produk pertanian secara efisien, menumbuhkan peran kelompok tani dalam meningkatkan fasilitas terkait berbagai sisi dalam usaha pertanian serta meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia yang berperan dalam sektor pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *