Dua Dosen Faperta Uniga, Lakukan Pengabdian pada Kelompok Tani di Kersamenak

Berita Kegiatan

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Garut (Faperta Uniga) Hanny
Hidayati Nafi’ah, SP., MP. dan Mega Royani, S.Pt., MS, melakukan
pengabdian kepada kelompok tani Mukti Tani III yang diketuai oleh H.
Suganda, berlokasi di Desa Kersamenak Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten
Garut.

Pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penyuluhan dilakukan oleh
Hanny Hidayati Nafi’ah  dengan tema “Meningkatkan Potensi Hasil Padi
dengan Aplikasi Pupuk Hayati” dan Mega Royani mengangkat tema “Amoniasi
Jerami Padi untuk Pakan Ternak”.

Selain kedua dosen Uniga, narasumber dari Dinas Pertanian Hilmi
Hardimansyah, SP dan UPT Pertanian Kecamatan Tarogong Kidul  Siti Nurul
Hidayah, SP dan Heru Saleh, SP., MP.

Kegiatan penyuluhan dan pelatihan ini didanai oleh Kemenristek DIKTI
melalui Dana Hibah Pengabdian dengan Skema Program Kemitraan Masyarakat tahun 2019.

Sebelumnya, dilakukan survey sejumlah anggota kelompok tani belum
mengetahui apa itu pupuk hayati dan fungsinya untuk meningkatkan
produksi padi serta bagaimana cara mengolah jerami dengan metode
amoniasi untuk pakan ternak.

“Pupuk hayati adalah pupuk yang berisi mikroba hidup untuk
meningkatkan kesuburan tanah, mikroba ini yang akan mengelola
ketersediaan unsur hara yang merupakan makanan bagi tanaman,” papar
Hilmi Hardimansyah, Minggu (15/9/2019).

Lebih
jauh Hilmi menuturkan, pupuk yang diberikan ke dalam tanah tidak cukup
hanya pupuk organik dan pupuk anorganik, tetapi harus juga diberikan
pupuk hayati. Dapat dikatakan pupuk organik dan anorganik adalah bahan
baku unsur hara, sedangkan pupuk hayati adalah pekerja yang menyediakan
unsur hara bagi tanaman.

Sementara Mega Royani menuturkan, tujuan dari penyuluhan untuk
menabah pengetahuan bagi kelompk tani khususnya Mukti Tani III dalam
mengoptimalkan produksi padi dengan penggunaan pupuk hayati.

“Saat ini masih dilakukan pembakaran jerami padi di lahan sawah
setelah panen, hal tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkukan
karena asap yang ditimbulkan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, maka
harus dilakukan pengelolaan limbah jerami salah satunya dengan
amoniasi,” kata Mega.

Amoniasi adalaha proses fermentasi jerami dengan menggunakan urea,
pelaksanaannya dapat  membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu, jerami yang
teramoniasi memiliki nutrisi yang lebih tinggi dan lebih cepat dicerna
oleh sapi dibandingkan jerami tanpa amoniasi.

Mega meminta para peserta untuk datang ke Faperta Uniga bila belum paham dan sekedar untuk berdiskusi lebih jauh tentang pupuk hayati.

Sumber : PorosGarut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *