2 Ribu Mahasiswa Uniga Ikut Bela Negara

Berita Kegiatan

Sejumlah mahasiswa Universitas Garut (Uniga) ikuti Pelatihan Bela Negara (PBN) di Yonif Raider 303/Setia Sampai Mati, Cibuluh.

Mahasiswa yang berjumlah lebih dari 2 ribuan itu berasal dari 8 Fakultas. Program tersebut dibagi dalam 5 gelombang, untuk satu gelombangnya terdiri dari 400 mahasiswa.

“Saya melihat ini semakin masif kegiatan bela negara. Kegiatan ini diharapkan bisa menciptakan pemuda yang disiplin, kerjakeras, pantang menyerah, gigih, berani, kompak dan merasakan bagaimana mereka berperan dalam menjaga keutuhan NKRI. Nanti mereka akan mendapat mentor dari bataliyon selama empat hari tiga malam, karena mereka sudah punya kurikulum yang dibuat kemenhan, namun ada penyesuaian materinya dengan mahasiswa,” kata Rektor Universitas Garut, Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng kepada Radar Garut saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (3/9).

Lanjutnya, dengan kurikulum yang disiapkan dari Kementrian Pertahanan, para mahasiswa juga bisa merasakan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan atau menjaga NKRI.

“Momentum kali ini juga ada yang menarik dan bisa menjadi pelajaran, sejumlah pasukan 303 cibuluh yang ditugaskan di Kalimantan utara, konon mereka dikirimkan ke Papua, mereka (mahasiswa, red) bisa membayangkan suasana di 303 ketika prajurit TNI meninggalkan istri maupun anaknya untuk bertugas. Saya juga berharap dengan adanya mahasiswa sekaligus memberi dukung moril dan semangat, bisa menggembirakan keluarga TNI, tidak sepi, terus ada empati kepada keluarga prajurit yang tengah berjuang membela negara, menjaga NKRI,” katanya.

“Banyak pelajaran yang akan didapat, disana mereka tidur di barak, mandi dengan fasilitas seadanya, makan bersama, ini akan memberikan kesan mendalam. Seperti halnya bagaimana ketika makan, mereka makan bersama, ketika yang lain belum ada yang kebagian maka yang lainnya belum boleh makan meski didepannya sudah ada, ini juga melatih kebersamaan. Tidak hanya itu, kalau ada sisa makanan itu harus dihabiskan oleh yang sebelahnya, ini untuk menghargai apa sudah diberikan, sehingga ada nilai-nilai menghargai hal-hal dari yang dianggap bukan apa-apa justru menjadi suatu hal yang harus dihargai,” pungkasnya.

Sumber : RadarPriangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *