Kiprah Dosen Faperta UNIGA di Tengah Masyarakat Dalam Penerapan GMP

Berita Kegiatan

PENTING untuk diketahui bahwa fungsi perguruan tinggi tidak hanya terbatas sebagai tempat belajar bagi mahasiswa. Berdasarkan fungsinya, perguruan tinggi berperan sebagai lembaga penelitian, pengajaran, dan pengabdian.

Perguruan tinggi juga merupakan lembaga formal untuk terus memperbaharui bidang keilmuan dalam kegiatan penelitian dan yang terpenting adalah perguruan tinggi harus dapat menuangkan keilmuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pengabdian.

Berangkat dari ketiga fungsi tersebut, keberadaan perguruan tinggi di tengah kesejahteraan masyarakat sangatlah vital. Fakultas Pertanian Universitas Garut merupakan lembaga yang sangat aktif dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat. Tim yang diketuai oleh Vela Rostwentivaivi, SE. M.Si., telah mengubah image industri rumah tangga menjadi jauh lebih baik dan lebih layak untuk kegiatan usahanya melalui penerapan Good Manufacturing Practice (GMP).

Kegiatan yang dimulai pada awal Juli 2019 ini menitikberatkan pada perbaikan fisik bangunan, pelatihan, dan pendampingan kepada produsen tahu Ibu Jojoh, di Kampung Balong Wetan, Desa Suci, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut. Perbaikan fisik bangunan ruang produksi dilakukan besar-besaran dengan tujuan agar lingkungan kerja menjadi lebih layak dan higienis. Hampir seluruh lantai dan dinding yang kotor kemudian dilapisi oleh keramik agar lebih mudah dalam melakukan perawatan dan pembersihan.

Begitu juga dengan ruangan kamar mandi, telah dilakukan renovasi sehingga lebih tertata dan lebih nyaman. Ruang produksi kini dapat menyimpan bahan baku dan produk jadi secara terpisah, sehingga produk jadi lebih terjamin dari sisi keamanan dan kesehatan pangan. Ruang produksi kini dilengkapi ventilasi sehingga sirkulasi udara menjadi lebih lancar  dan pencahayaan secara alamiah dapat menerangi ruangan. Selain renovasi, perbaikan fisik juga dilakukan dengan penambahan wastafel cuci tangan dan pengaturan ulang alur produksi.

Pengaturan ini diperlukan agar proses produksi menjadi lebih tertata, efektif, dan efisien. Di dalam ruang produksi juga kini dilengkapai dengan perlengkapan K3 termasuk di dalamnya peralatan P3K dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Ruang produksi juga dilengkapi oleh material komunikasi berupa petunjuk dan alur produksi yang benar agar pekerja terbiasa dengan pola yang baru.

Setiap pekerja kini dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan kerja seperti sarung tangan, masker, topi, celemek, dan sepatu boot.
Tidak sampai di situ, kegiatan ini juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada mitra (pengrajin tahu Jojoh). Pelatihan dan pendampingan ini dilakukan untuk memberikan wawasan kepada kita semua tentang pentingnya penerapan GMP.

Kegiatan ini dilakukan di 2 (dua) hari terpisah dengan tujuan agar produsen dapat betul-betul memahami dan dapat menjalankan GMP secara berkelanjutan. Kegiatan Pendampingan Proses Pembuatan Tahu dengan penerapan GMP dipandu oleh Ati Atul Quddus S.Pt, M.Si (Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan UNIGA). Pelatihan mengenai Teori GMP di Industri Pangan dipandu oleh Atia Fizriani S.TP., M.Sc (Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan UNIGA) dan pelatihan mengenai Manajemen Usaha dan Pemasaran yang dipandu oleh Dr. Tintin Febrianti, SP., MP (Dosen Agribisnis UNIGA).

Lalu mengapa harus GMP? Pola GMP yang dilakukan oleh produsen akan memberikan produk akhir yang lebih higienis, aman terhadap kontaminan sehingga mampu meningkatkan kualitas, keamanan, dan mutu produk konsumsi. GMP juga mempermudah alur produksi sehingga waktu kerja menjadi lebih singkat dan mengurangi kerugian dari pemborosan. Bagi produsen, pola GMP ini akan menambah wawasan dan pegetahuan sehingga image dan  kompetensi produsen akan meningkat, GMP juga suatu langkah awal produsen tradisional agar mendapatkan P-IRT.

Sebagai konsumen yang cerdas dan peduli terhadap perkembangan generasi penerus, tentu kita lebih memilih produk dengan tingkat mutu dan keamanan pangan yang lebih baik.

Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi semua pihak, baik itu konsumen, produsen, perguruan tinggi, maupun daerah. Masyarakat harus mulai sadar akan keamanan dan mutu terhadap setiap bahan makanan yang dikonsumsi. Pada akhirnya kualitas makanan yang baik akan menghasilkan kehidupan generasi yang lebih baik. ***

Sumber : PorosGarut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *