Dosen Faperta Uniga lakukan Pembinaan dan Pendampingan Biokonversi Kotoran Ternak

Berita

Oleh : Mega Royani, S.Pt., M.S. & Hanny Hidayati Nafi’ah, SP., MP.

Garut – Kelompok ternak KDI (Kampung Domba Indonesia) yang berlokasi di Kampung Cikeris Desa Cikandang Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut tidak lagi dipusingkan dengan limbah kotoran domba yang menumpuk, limbah ternak domba yang dihasilkan per hari mencapai sekitar 20 kg, dalam jangka waktu 1 bulan saja, limbah sudah mencapai 600 kg. Selama ini limbah tersebut hanya dibiarkan saja di sekitar kandang, atau diberikan kepada yang membutuhkan secara percuma.

Kini limbah tersebut telah berubah menjadi penghasilan tambahan bagi peternak karena Dosen Fakultas Pertanian Universitas Garut, Mega Royani, S.Pt., M.S. melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) mengenalkan biokonversi limbah ternak menjadi pupuk kascing dengan metode penyuluhan, pelatihan dan pendampingan. Saat ini, limbah yang menumpuk itu sudah berubah menjadi pupuk kascing yang dikemas dengan plastik ukuran 5 kg dan dijual seharga Rp. 20.000,- per kemasan. Dengan penjualan tersebut, kelompok ternak mendapat keuntungan sekitar Rp. 600.000 – Rp. 700.000,- per bulan. “Adanya program ini sangat bermanfaat bagi kami, karena selain bertambah pengetahuan juga bertambah penghasilan” ujar Amin yang merupakan ketua kelompok ternak KDI.

Biokonversi limbah ternak menjadi pupuk organik selain bisa menangani pencemaran lingkungan juga akan sangat berperan dalam pemulihan daya dukung lingkungan terutama bidang pertanian “Kelompok ternak KDI memiliki potensi sebagai penghasil pupuk kascing dilihat dari cukup banyaknya kotoran ternak yang dihasilkan setiap bulannya yakni kurang lebih 600 kg, sehingga limbah ternak tidak menjadi beban biaya usaha akan tetapi menjadi hasil sampingan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berkontribusi dalam menambah pendapatan yang berkelanjutan bagi peternak” begitu ujar Mega ”Hasil penelitian menunjukkan setiap 1 kg bahan kering limbah ternak (baik sapi, domba, maupun ayam) dapat menghasilkan kurang lebih 0,7 kg pupuk kascing. Jika kelompok ternak KDI menghasilkan 600 kg limbah, maka pupuk kascing yang dihasilkan sekitar 189 kg kascing setiap bulannya” lanjutnya.

Komposisi antara cacing dan medianya yaitu 1:1. Jika cacing yang dipelihara lima kilogram, berarti dalam satu hari cacing memakan dan menghasilkan kotoran juga sebanyak lima kilogram. Cacing yang digunakan bisa cacing lokal yang ada di kebun atau pekarangan, bisa juga membeli bibit cacing Lumbricus rubellus dengan harga sekitar Rp. 25.000,- per kg. Tanda bahwa cacing menyukai media budidaya adalah ketika dimasukkan ke dalam tempat pembiakan,  mereka langsung masuk ke dalam media.

Pupuk kascing mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan tanaman dan memperkaya tanah tempat tanaman itu tumbuh, pupuk ini juga dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Pupuk kascing dapat diterapkan sebagai pupuk dasar, dibenamkan dalam tanah, di tabur di atas tanah, ditabur disamping mengelilingi tumbuhan. Selain digunakan untuk pupuk, dapat juga digunakan sebagai media tanaman untuk budidaya dengan hidroponik sistem substrat. Oleh karena itu, untuk menjamin keberlangsungan usaha dari pupuk kascing ini, dilakukan kerjasama dengan Karang Taruna Kumandang yang berada satu desa dengan kelompok ternak KDI. Oleh karang taruna, pupuk kascing ini dijadikan media tanam untuk Tanaman buah dalam pot (Tabulampot) dimana pelatihan dan pendampingannya dilakukan oleh rekan satu tim yaitu Hanny Hidayati Nafi’ah, SP., MP.

Budidaya tanaman buah dalam pot (Tabulampot) banyak disukai karena memiliki beberapa kelebihan diantaranya Pemanfaatan lahan atau halaman sempit, Berfungsi sebagai tanaman hias, Mudah dipindah-pindah tanpa merusak tanaman dan Dapat diatur masa berbunga dan berbuah. Terdapat beberapa jenis tanaman buah yang lazim dijadikantabulampot. Tingkat keberhasilan berbuahnya dikategorikan mudah, sulit dan belum berhasil.Tabulampot dapat dijual dengan harga Rp. 250 – Rp. 500.000 per pot. Jenis tanaman buah yang ditanam dalam pot ini diantaranya buah jeruk, jambu biji, jambu air sawo, belimbing dan buah naga. Dengan adanya usaha tambulampot ini, maka Karang Taruna Kumandang juga mendapatkan keuntungan dan memiliki usaha produktif yang dapat dijadikan sumber penghasilan bagi organisasi maupun anggotanya.

2 thoughts on “Dosen Faperta Uniga lakukan Pembinaan dan Pendampingan Biokonversi Kotoran Ternak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *