Mahasiswa Baru UNIGA TA. 2017-2018 ikuti Program Bela Negara

Berita

UNIGA – Direncanakan 1.600 Mahasiswa Baru Universitas Garut (Uniga) akan diikutsertakan dalam kegiatan  latihan kepemimpinan dasar atau pelatihan bela negara di Markas Batalyon Infanteri (Yonif) Raider 303/ SSM (Setia Sampai Mati), Desa Cibuluh, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, selama tiga

hari sejak Sabtu-Senin (12/8)

Rektor Universitas Garut (UNIGA), Dr. Ir. H Abdusy Syakur Amin, M.Eng. menyebutkan pelatihan bela negara bagi para mahasiswanya merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa baru dan kegiatan ini menjadi syarat mengikuti sidang kelulusan/skripsi. “Untuk angkatan tahun 2017 ini Uniga sudah kedua kalinya menyelenggarakan secara serentak untuk semua fakultas dengan melibatkan seluruh mahasiswa baru,” ungkap rector kepada wartawan, Sabtu (12/8).

Menurutnya kegiatan tersebut diharapkan mampu membawa para  mahasiswa baru Uniga untuk memiliki rasa kekompakan kecintaan terhadap negara dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama. “Meskipun mereka berangkat dari berbeda fakultas, tapi ketika di sini mereka hanya punya satu nama yaitu Uniga, sehingga tumbuhlah rasa kebersamaannya, cinta terhadap almamater, lebih jauhnya cinta terhadap bangsa dan Negara” Ungkap Rektor

Rektor menbahkan, program bela negara akan dijadikan kurikulum tetap untuk melengkapi program-program akademis ayang ada selama ini.

“Misalnya pada program kewiraan, program tersebut akan asyik dengan materi praktek seperti bela negara ini, jadi lebih lengkap,”Ucapnya.

Dalam Kesempatan berbeda Wakil Rektor Bidang Kemahasiwaan Dr. Gugun Geusan Akbar, M.Si saat ditemui di meja kerjanya mengungkapkan pelepasan para peserta bela Negara kali ini merupakan gelombang pertama dari enam gelombang yang akan diberkangkatkan satu gelombang berjumlah 300 mahasiswa, para peserta akan melaksanakan pelatihan selama 3 hari.

Sementara itu Komandan Yonif Raider 303 Mayor Inf. Benny Wahyudi, mengatakan pelatihan bela negara pada dasarnya adalah meningkatkan kecintaan kepada negara yang materinya berupa teori dan praktek lapangan.

“Kami memberikan materi teori yaitu empat pilar bangsa dan negara, kepemimpinan, pengenalan tentang TNI-AD, kemudian materi prakteknya adalah outbond, mountenering, hiking atau jelajah, termasuk pengenalan senjata meskipun secara sepintas saja”, Ungkapnya.

Benny menegaskan dalam ketahanan negara dan tujuan bela negara peran masyarakat termasuk para mahasiswa sangat penting untuk melengkapi komponen-komponen ketaha

nan negara ini.

“Kita harus mempersiapkan komponen cadangan, jika suatu saat nanti ada ancaman terhadap negara dari luar,  komponen utama adalah tugas TNI dan Kepolisian. Sementara komponen cadangan adalah komponen yang memperkuat komponen utama,” Tuturnya.

Komponen-komponen  cadangan tersebut adalah tugas para veteran atau warga negara yang sudah dilatih khusus. Kemudian komponen pendukung, komponen ini diisi oleh mahasiswa, generasi muda, masyarakat biasa,yang dibekali dengan kemampuan-kemampuan dasar.

“Seandainya negara dalam keadaan bahaya maka komponen pendukung siap dimobilisasi, karena itulah pentingnya bela negara, Tandasnya. (abar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *